Senin, 09 Desember 2013

Adakah Makna Syar’i (Haqiqah Syar’iyyah) dalam Al Qur’an dan As Sunah?



Oleh: Adi ST

 

Dalam tulisan sebelum ini yang berjudul Makna-makna dalam Bahasa Al Qur’an telah dijelaskan adanya beberapa perspektif makna, salah satunya adalah makna syar’i (makna yang dikehendaki Allah SWT dan Rasul-Nya). Ternyata tidak semua ulama memiliki pendapat ada makna syar’i di dalam Al Qur’an. Salah satunya adalah Qadhi Abu Bakar Al Baqilani.
Beliau berargumen dengan 2 hal; Pertama, jika memang makna syar’i ada tentunya umat perlu diberitahu secara tauqifi adanya perpindahan makna pada lafazh tersebut. Hal ini mengharuskan adanya dalil mutawatir, padahal tidak ada satu pun dalil mutawatir yang menjelaskan hal perpindahan makna tersebut. Kedua, jika lafazh tersebut memiliki makna yang berbeda dengan madlul (pengertian) menurut konteks bahasa Arab (makna lughawiyah), maka hal ini berimplikasi bahwa Al Qur’an tidak diturunkan dalam bahasa Arab sehingga menyalahi QS Thaha: 113 yang artinya, “Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab”.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa As Syari’ (Allah SWT dan Rasul-Nya) tidaklah menggunakan lafazh-lafazh tersebut kecuali dalam makna bahasanya. Contohnya adalah kata sholat. Beliau mengatakan bahwa sholat yang diperintahkan itu adalah do’a, tetapi As Syari’ juga mendatangkan dalil-dalil lain yang menjelaskan bahwa do’a tidak akan terkabul kecuali dengan syarat yang telah ditetapkan dalam dalil-dalil tersebut.
Demikianlah pendapat salah seorang ulama besar yang menolak keberadaan makna syar’i. Namun, penelitian yang menyeluruh terhadap Al Qur’an dan As Sunah menunjukkan bahwa makna syar’i memang ada. Buktinya adalah huruf-huruf di awal beberapa surat Al Qur’an telah digunakan As Syari’ untuk menamai surat tersebut, sedangkan orang Arab tidak mengetahui bahwa huruf-huruf itu  adalah nama bagi sebuah surat. Bukti lainnya, ada ungkapan yang diketahui orang Arab namun mereka tidak tahu maknanya, yakni lafazh Ar Rahman yang adalah dimaksudkan untuk Allah SWT. Orang Arab saat itu tidak menggunakan lafazh Ar Rahman untuk menyebut Allah SWT. Ketika turun QS Al Isra’:110 yang artinya, “ Serulah Allah atau serulah Ar Rahman”, orang Arab mengatakan, “Kami tidak mengenal Ar Rahman, kecuali Rahman Al Yamamah”.
Di dalam As Sunah pun dapat ditunjukkan bukti adanya makna syar’i. Di dalam sebuah hadits sahih riwayat Imam Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh tujuh pintu. Pintu yang paling rendah adalah menyingkirkan bahaya dari jalan, dan yang paling tinggi adalah perkataan Laa ilaaha illallah”. Di sini kata iman tidak digunakan dengan makna bahasanya, yakni tashdiq (pembenaran). Namun ditunjukkan dengan makna lain yang bukan tashdiq, yakni menyingkirkan bahaya dari jalan. Dengan demikian, makna syar’i memang benar adanya.

Sumber: Keadilan Sahabat (2004) oleh A Said Aqil Humam Abdurrahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar