Senin, 18 Maret 2013

Cara Khalifah Utsman Menjaga Bacaan Al Qur’an


Oleh: Adi ST

Awalnya salinan mushaf Utsmani tidak bersyakl dan tidak bertitik. Mushaf tersebut juga bersih dari tambahan catatan tafsir, rincian catatan umum, atau tulisan lain yang bermaksud melestarikan makna yang dimaksud. Pada masa khalifah Utsman, mushaf-mushaf tersebut beliau kirim ke enam wilayah kekuasaannya yakni Kufah, Bashrah, Syam, Mekah, Yaman dan Bahrain, sedangkan satu lagi disimpannya sendiri.

Karena penulisan mushaf itu yang tanpa syakl dan tanpa titik maka penulisan lafadz-lafadz dengan huruf lambang dapat dibaca dengan lebih dari satu cara. Misalnya firman Allah SWT, “Yaa ayyuhalladziina aamanuu in jaa akum faasiquun binabain fatabayyanuu…” (Al Hujurat: 6). Lafadz terakhir ayat tersebut fatabayyanuu yang berarti “hendaklah kalian teliti” ditulis dengan huruf tanpa titik sama sekali, sehingga dapat pula dibaca fatatsabbatuu yang bermakna “hendaklah kalian periksa kepastiannya”. Contoh lainnya, “fatalaqqaa Aadamu min rabbihi kalimaatin…” (Al Baqarah: 37) yang artinya “Kemudian Adam menerima kalimat-kalimat dari Tuhannya…”.  Ayat tersebut ditulis dengan huruf Arab tanpa syakl sehingga dapat dibaca “fa tulqaa Aadama min rabbihi kalimaatun…” yang artinya “Kalimat-kalimat dari Tuhannya diterimakan kepada Adam”.



Dua bentuk bacaan pada dua ayat tersebut dapat dibenarkan, karena ada sebuah hadits yang tidak diragukan kebenarannya meriwayatkan bahwa Rasulullah membaca kedua ayat tersebut dengan dua bentuk bacaan, atau ada seorang sahabat yang membaca kedua ayat tersebut dengan dua bentuk bacaan di hadapan Rasulullah dan beliau membenarkannya. Namun jika ada dalil berupa hadits yang diriwayatkan oleh satu orang (hadits ahad) dan tidak dapat dipandang sebagai hadits mutawatir yang menegaskan bentuk bacaan tertentu, maka hadits demikian itu tidak bisa dijadikan dalil (pegangan). Bahkan dapat dipandang menyimpang (syaadz) sekalipun penulisan dengan huruf-huruf tanpa syakl itu memang dapat dibaca menurut hadist menyimpang tadi.

Oleh karena itu, khalifah Utsman berusaha agar kaum muslimin lebih menyukai menerima Al Quran yang tersimpan di dalam dada penghafalnya dan tidak mengandalkan naskah tertulis semata. Setiap beliau mengirim mushaf tidak jarang diiringi seorang penghafal Al Quran yang bacaannya sesuai dengan mushaf kiriman. Misalnya, Zaid bin Tsabit dikirim untuk membacakan mushaf gaya Madinah, Abdullah bin Saib membacakan mushaf gaya Mekah, Al Mughirah bin Syihab dengan gaya Syam, Abu ‘Abdurrahman as Silmi dengan gaya Kufah, dan ‘Amir bin ‘Abdulqais dengan gaya Bashrah. (Manahilul ‘Irfan, jilid I, hal. 386-397: Zarqani).

Dikutip dari: Membahas Ilmu-ilmu Al Quran (1995) oleh Dr. Subhi As-Shalih


Tidak ada komentar:

Posting Komentar